Sekolah Ramah Anak Tanpa Perundungan: Strategi Efektif bagi Guru SD

Gambar oleh OpiniEdwin


Membangun Lingkungan Belajar yang Aman dan Nyaman

Sekolah dasar bukan sekadar tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sekolah juga menjadi ruang penting untuk membangun karakter, mengembangkan kemampuan sosial, serta belajar menghargai perbedaan. Karena itu, setiap murid berhak mendapatkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan.

Perundungan atau *bullying* dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari mengejek nama teman, menghina kondisi fisik, mengucilkan seseorang dari kelompok bermain, hingga melakukan kekerasan fisik. Perilaku yang dianggap bercanda oleh sebagian anak bisa menimbulkan rasa takut dan mengganggu kepercayaan diri anak lain.

Guru sekolah dasar memiliki peran strategis dalam mencegah perilaku tersebut. Melalui pembiasaan positif, pengawasan yang konsisten, komunikasi terbuka, dan kerja sama dengan orang tua, sekolah dapat membangun budaya antiperundungan yang tidak hanya tertulis dalam tata tertib, tetapi juga diterapkan setiap hari.

Data Perundungan Menunjukkan Pentingnya Pencegahan

Masalah perundungan perlu mendapat perhatian serius karena berkaitan dengan keselamatan dan kesejahteraan anak. Publikasi UNICEF Indonesia berjudul *Bullying in Indonesia* yang diterbitkan pada 2020 menyajikan data PISA 2018. Dalam data tersebut, sekitar 41 persen siswa berusia 15 tahun di Indonesia melaporkan mengalami perundungan setidaknya beberapa kali dalam sebulan.

Angka tersebut tidak boleh dianggap sebagai gambaran langsung seluruh murid sekolah dasar saat ini, sebab respondennya berusia 15 tahun dan datanya berasal dari 2018. Namun, temuan itu menunjukkan bahwa perundungan merupakan persoalan nyata dalam lingkungan pendidikan yang membutuhkan upaya pencegahan berkelanjutan.

Publikasi UNICEF tersebut dapat dibaca melalui tautan berikut:

UNICEF Indonesia juga menjelaskan bahwa kekerasan terhadap anak dapat terjadi di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat. Informasi mengenai perlindungan anak tersedia di Sini

Data tersebut menjadi pengingat bahwa sekolah tidak cukup hanya bereaksi ketika terjadi perkelahian. Pencegahan perlu dilakukan sejak dini melalui pendidikan karakter, keteladanan guru, dan penciptaan suasana kelas yang membuat setiap anak merasa dihargai.

Regulasi Pemerintah tentang Sekolah Aman dan Nyaman

Pemerintah Indonesia telah memperkuat upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Peraturan ini ditetapkan pada 8 Januari 2026 dan mulai berlaku pada 9 Januari 2026.

Berdasarkan informasi dalam JDIH Badan Pemeriksa Keuangan, kebijakan tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan spiritual, perlindungan fisik, kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural, serta keadaban dan keamanan digital.

Kemendikdasmen menegaskan bahwa budaya sekolah aman dan nyaman perlu dibangun melalui nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku seluruh warga sekolah. Penjelasan resmi dapat dibaca melalui siaran pers Kemendikdasmen

Perlu diperhatikan, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 mencabut Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023. Oleh karena itu, sekolah perlu menggunakan ketentuan terbaru sebagai acuan dan menyesuaikan pelaksanaan program perlindungan murid dengan kebijakan yang berlaku.

Regulasi bukan sekadar dokumen administrasi. Pelaksanaannya harus terlihat dalam interaksi sehari-hari, mulai dari cara guru menegur murid, penanganan laporan, hingga perlindungan terhadap anak yang mengalami perundungan.

Strategi Efektif Mencegah Perundungan di Sekolah Dasar

Menanamkan Empati Sejak Dini

Anak sekolah dasar sedang belajar memahami perasaan orang lain. Guru dapat memanfaatkan kegiatan sederhana untuk mengembangkan empati, seperti membaca cerita tentang persahabatan, berdiskusi mengenai perbedaan, atau meminta murid menyampaikan perasaan setelah menghadapi situasi tertentu.

Misalnya, guru mengajak murid membayangkan bagaimana perasaan seseorang ketika terus-menerus diejek karena penampilannya. Setelah itu, murid berdiskusi tentang tindakan yang dapat dilakukan untuk membantu temannya.

Kegiatan semacam ini membantu anak memahami bahwa perkataan dan tindakan memiliki konsekuensi. Guru juga perlu menegaskan bahwa setiap murid memiliki hak untuk dihormati, terlepas dari kondisi fisik, kemampuan akademik, latar belakang keluarga, maupun karakter pribadinya.

Menyusun Kesepakatan Kelas Bersama Murid

Tata tertib akan lebih bermakna ketika anak memahami alasan di balik aturan. Guru dapat mengajak murid menyusun kesepakatan kelas dengan bahasa sederhana, misalnya tidak mengejek, tidak memukul, tidak mengucilkan teman, dan berani meminta bantuan ketika melihat perlakuan yang menyakiti orang lain.

Kesepakatan tersebut dapat ditulis pada poster kelas dan ditinjau secara berkala. Guru perlu memberikan contoh nyata melalui perilakunya sendiri, termasuk ketika menghadapi murid yang melakukan kesalahan.

Aturan harus diterapkan secara adil. Jangan sampai ejekan dianggap wajar ketika dilakukan murid tertentu, tetapi langsung dihukum ketika dilakukan murid lain. Konsistensi membantu anak memahami batas perilaku yang dapat diterima.

Mengenali Bentuk Perundungan

Guru perlu memahami bahwa perundungan tidak selalu berupa pukulan atau tendangan. Penghinaan, penyebaran rumor, intimidasi, pengucilan, dan tindakan mempermalukan seseorang juga dapat melukai kondisi psikologis anak.

Penjelasan pemerintah mengenai bentuk kekerasan dapat dipelajari melalui portal Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Kemendikdasmen. Untuk penerapan kebijakan saat ini, guru tetap perlu merujuk pada Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.

Guru juga perlu membedakan konflik biasa dengan perundungan. Perselisihan sesaat antara dua murid yang memiliki posisi relatif seimbang tidak selalu merupakan perundungan. Perundungan umumnya melibatkan tindakan menyakiti yang berulang dan ketimpangan kekuatan atau relasi kuasa.

Meskipun demikian, satu kejadian kekerasan tetap harus ditangani dengan serius. Sekolah tidak perlu menunggu sampai suatu perilaku berulang untuk memberikan perlindungan kepada murid yang terancam atau terluka.

Menciptakan Ruang Aman untuk Bercerita

Sebagian anak enggan melaporkan perundungan karena takut diejek kembali, dianggap lemah, atau mendapat ancaman dari pelaku. Guru perlu membangun hubungan yang membuat murid berani bercerita tanpa takut dipermalukan.

Sekolah dapat menyediakan jalur pelaporan yang mudah dipahami, seperti berbicara langsung kepada guru tepercaya atau menyampaikan laporan melalui mekanisme sekolah yang tersedia. Setiap laporan harus didengarkan secara serius, dicatat seperlunya, dan ditindaklanjuti dengan menjaga privasi anak.

Guru sebaiknya berbicara dengan pihak-pihak terkait secara terpisah terlebih dahulu, bukan langsung mempertemukan mereka di depan kelas. Anak yang mengalami perundungan perlu mendapatkan perlindungan dan dukungan, sedangkan perilaku pelaku harus ditangani secara mendidik dan proporsional.

Mengawasi Area Rawan Perundungan

Perundungan dapat terjadi bukan hanya ketika pembelajaran berlangsung, melainkan juga saat istirahat, di halaman, di kantin, di lorong, atau ketika murid menunggu jemputan.

Sekolah perlu mengevaluasi area yang kurang terpantau dan mengatur pengawasan guru secara proporsional. Pengawasan bukan berarti mengendalikan setiap gerak anak, melainkan memastikan bahwa lingkungan sekolah cukup aman dan bantuan tersedia ketika dibutuhkan.

Guru juga dapat mengajak murid berdiskusi mengenai lokasi yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Masukan anak penting karena orang dewasa belum tentu menyaksikan semua kejadian yang berlangsung di antara teman sebaya.

Mengajarkan Etika Digital

Perundungan juga dapat berlanjut melalui grup percakapan, permainan daring, atau media sosial yang digunakan anak. Foto teman yang disebarkan tanpa izin, komentar menghina, dan pengucilan dari grup dapat menimbulkan tekanan emosional.

Guru perlu mengajarkan bahwa perilaku menghormati orang lain tetap berlaku di ruang digital. Murid harus memahami pentingnya menjaga privasi, meminta izin sebelum membagikan foto, tidak meneruskan pesan yang mempermalukan teman, dan melapor kepada orang dewasa tepercaya ketika menemukan ancaman daring.

Pembahasan ini sebaiknya disesuaikan dengan usia dan pengalaman murid. Orang tua juga perlu dilibatkan agar pesan tentang keamanan digital konsisten antara sekolah dan rumah.

Melibatkan Orang Tua dan Masyarakat

Pencegahan perundungan tidak dapat dibebankan kepada guru seorang diri. Orang tua perlu mengetahui perilaku yang diamati sekolah dan memperoleh kesempatan untuk berdiskusi tanpa saling menyalahkan.

Ketika muncul laporan, sekolah sebaiknya mengumpulkan informasi secara hati-hati, menjelaskan langkah perlindungan yang diperlukan, serta menjaga kerahasiaan identitas anak. Komunikasi perlu berfokus pada keselamatan murid dan perubahan perilaku, bukan mempermalukan keluarga.

Sekolah juga dapat mengadakan pertemuan orang tua mengenai pengasuhan tanpa kekerasan, penggunaan gawai, empati, dan komunikasi dengan anak. Kolaborasi tersebut sejalan dengan pendekatan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang menekankan keterlibatan warga sekolah, orang tua, dan unsur masyarakat.

Bagaimana Menangani Perundungan Ketika Terjadi?

Jika guru menyaksikan perundungan, langkah pertama adalah menghentikan tindakan dengan aman dan memastikan anak yang terdampak tidak berada dalam bahaya. Jika terdapat cedera atau ancaman serius, sekolah harus segera mengupayakan pertolongan dan perlindungan yang sesuai.

Selanjutnya, guru perlu mendengarkan keterangan pihak-pihak terkait tanpa menghakimi sejak awal. Catat informasi penting secara objektif, termasuk waktu, tempat, tindakan yang dilaporkan, saksi, dan langkah yang sudah dilakukan. Hindari memaksa anak menceritakan pengalaman berulang kali di hadapan banyak orang.

Penanganan harus mempertimbangkan kebutuhan anak, tingkat risiko, dan ketentuan yang berlaku. Sekolah dapat melibatkan kepala sekolah, orang tua atau wali, tenaga profesional, maupun pihak berwenang sesuai situasi. Jangan menjanjikan kerahasiaan mutlak jika keselamatan anak mengharuskan informasi disampaikan kepada pihak yang bertanggung jawab.

Pemulihan juga penting. Anak yang mengalami perundungan mungkin membutuhkan pendampingan lanjutan, sedangkan anak yang melakukan perundungan perlu dibimbing untuk memahami dampak tindakannya dan mengubah perilaku. Pendekatan mendidik tidak berarti mengabaikan tanggung jawab.

Sekolah Aman Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Menurut saya, sekolah ramah anak tanpa perundungan tidak cukup diwujudkan melalui slogan pada spanduk atau kegiatan seremonial setiap tahun. Budaya tersebut tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten: guru mendengarkan murid, anak berani membela teman yang diperlakukan tidak adil, dan setiap laporan ditangani dengan serius.

Guru sekolah dasar memiliki kesempatan besar membentuk cara anak memperlakukan orang lain. Namun, guru juga membutuhkan dukungan kebijakan sekolah, komunikasi yang sehat dengan orang tua, serta mekanisme penanganan yang jelas.

Anak yang melakukan perundungan tetap perlu dibimbing, tetapi keselamatan dan martabat anak yang menjadi korban harus menjadi perhatian utama. Tidak ada alasan untuk menormalisasi penghinaan hanya karena dianggap sebagai candaan atau bagian dari masa kecil.

Pada akhirnya, keberhasilan sekolah bukan hanya terlihat dari nilai rapor dan prestasi akademik. Keberhasilan juga terlihat ketika murid merasa aman untuk belajar, berani menjadi dirinya sendiri, menghormati perbedaan, dan tidak takut datang ke sekolah.

Membangun sekolah tanpa perundungan memang membutuhkan proses. Namun, ketika guru, murid, orang tua, dan masyarakat bergerak bersama, sekolah dasar dapat menjadi tempat yang lebih aman untuk tumbuh, belajar, dan membangun masa depan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama