![]() |
| gambar ilustrasi oleh OpiniEdwin |
OpiniEdwin - Di era digital, kata sandi atau password menjadi salah satu lapisan perlindungan utama untuk menjaga keamanan akun pribadi. Mulai dari email, media sosial, layanan perbankan, hingga aplikasi administrasi pekerjaan, semuanya membutuhkan sistem autentikasi agar tidak mudah diakses oleh orang yang tidak berwenang.
Namun, masih banyak pengguna internet yang menggunakan kata sandi sederhana karena mudah diingat. Ada pula yang memakai kata sandi yang sama untuk berbagai akun agar tidak kesulitan ketika harus masuk ke layanan berbeda.
Kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko keamanan digital. Lantas, bagaimana cara membuat kata sandi yang kuat sekaligus mudah dikelola? Berikut beberapa tips yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Gunakan Kata Sandi yang Panjang
Salah satu prinsip penting dalam membuat kata sandi yang kuat adalah memperhatikan panjangnya. Kata sandi yang terlalu pendek cenderung lebih mudah ditebak atau dicoba melalui serangan otomatis.
National Institute of Standards and Technology (NIST), lembaga pemerintah Amerika Serikat yang mengembangkan pedoman keamanan teknologi, dalam Digital Identity Guidelines menekankan pentingnya panjang kata sandi. Pedoman tersebut menetapkan panjang minimum 15 karakter untuk kata sandi yang digunakan sebagai satu-satunya faktor autentikasi.
Pengguna dapat memanfaatkan frasa sandi atau passphrase, yaitu rangkaian beberapa kata yang disusun menjadi satu rahasia autentikasi. Frasa tersebut sebaiknya cukup panjang, tidak mudah ditebak, dan tidak berkaitan dengan informasi pribadi yang diketahui orang lain.
Panjang kata sandi tetap perlu disesuaikan dengan ketentuan layanan yang digunakan. Jika memungkinkan, pilih kata sandi yang lebih panjang daripada batas minimum.
Hindari Informasi Pribadi yang Mudah Ditebak
Tanggal lahir, nama pasangan, nama anak, nomor telepon, dan nama sekolah sering digunakan sebagai kata sandi karena mudah diingat. Sayangnya, informasi semacam ini terkadang dapat ditemukan melalui media sosial atau dokumen yang dibagikan secara terbuka.
Sebagai contoh, seseorang yang menggunakan tanggal lahir sebagai kata sandi mungkin merasa pilihannya cukup aman karena orang lain tidak mengetahui tanggal tersebut. Padahal, informasi itu bisa saja tersedia pada profil publik atau unggahan perayaan ulang tahun.
Hindari pula pola umum seperti `123456`, `password`, `admin123`, atau variasi sederhana dari nama pribadi. Menambahkan satu angka atau tanda seru pada kata yang mudah ditebak tidak otomatis menjadikannya aman.
Prinsipnya, kata sandi harus sulit diprediksi oleh orang lain, bukan sekadar terlihat rumit.
Gunakan Kata Sandi Berbeda untuk Setiap Akun
Menggunakan satu kata sandi untuk banyak akun memang terasa praktis. Akan tetapi, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan masalah serius ketika salah satu layanan mengalami kebocoran data.
Penyerang dapat mencoba kombinasi email dan kata sandi yang bocor pada layanan lain. Teknik ini dikenal sebagai credential stuffing.
NIST menjelaskan pentingnya penggunaan kata sandi berbeda untuk mencegah dampak kebocoran satu akun merembet ke akun lainnya. Informasi tersebut dapat dipelajari melalui pedoman resmi NIST mengenai identitas digital.
Prioritaskan kata sandi unik untuk email utama, akun keuangan, media sosial, dan akun pekerjaan. Email utama perlu mendapat perhatian khusus karena sering digunakan untuk memulihkan akses ke layanan lain.
Manfaatkan Password Manager
Bagaimana jika seseorang memiliki puluhan akun dan harus mengingat semuanya? Menghafal setiap kata sandi yang panjang dan berbeda tentu tidak mudah.
Solusinya adalah menggunakan password manager, yaitu aplikasi yang membantu membuat, menyimpan, dan mengisi kata sandi secara aman. Dengan alat ini, pengguna tidak harus mengingat seluruh kata sandi satu per satu.
Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) merekomendasikan penggunaan kata sandi yang kuat serta pengelola kata sandi sebagai bagian dari kebiasaan menjaga keamanan digital.
Pilih layanan pengelola kata sandi yang memiliki reputasi baik, perlindungan penyimpanan yang memadai, dan mekanisme pemulihan akun yang jelas. Gunakan kata sandi utama yang panjang dan kuat untuk melindungi seluruh penyimpanan tersebut.
Jangan menyimpan kumpulan kata sandi dalam dokumen teks biasa yang mudah dibuka oleh siapa pun yang memperoleh akses ke perangkat.
Aktifkan Autentikasi Multifaktor
Kata sandi yang kuat tetap memiliki keterbatasan. Kata sandi dapat dicuri melalui situs palsu, penipuan, atau perangkat yang terinfeksi perangkat lunak berbahaya.
Karena itu, aktifkan autentikasi multifaktor atau multifactor authentication (MFA) pada akun yang mendukungnya. Fitur ini meminta bukti tambahan saat seseorang masuk, misalnya melalui aplikasi autentikator, kunci keamanan, atau metode verifikasi lain yang tersedia.
Menurut CISA, autentikasi multifaktor memberikan lapisan perlindungan tambahan karena kata sandi saja tidak cukup untuk menyelesaikan proses masuk.
Utamakan MFA pada email utama, layanan keuangan, penyimpanan cloud, dan akun pekerjaan. Simpan kode pemulihan di tempat yang aman dan jangan pernah membagikan kode verifikasi kepada orang lain.
Jangan Mengganti Kata Sandi Tanpa Alasan yang Jelas
Sebagian orang terbiasa mengganti kata sandi setiap bulan meskipun tidak ada tanda bahwa akunnya bermasalah. Padahal, kebiasaan mengganti kata sandi secara berkala tanpa alasan dapat membuat pengguna memilih pola yang mudah ditebak.
NIST tidak mewajibkan penggantian kata sandi secara berkala tanpa alasan. Penggantian perlu dilakukan ketika ada indikasi kata sandi telah bocor, akun mengalami akses mencurigakan, atau layanan terkait meminta tindakan keamanan yang relevan.
Jika menerima pemberitahuan kebocoran, segera ubah kata sandi akun terdampak dan akun lain yang ternyata menggunakan kata sandi sama. Pastikan perubahan dilakukan melalui situs atau aplikasi resmi, bukan tautan mencurigakan dalam pesan.
Waspadai Phishing dan Kebocoran Data
Kata sandi yang kuat tidak akan banyak membantu jika pengguna menyerahkannya kepada pihak yang menyamar sebagai layanan resmi.
Phishing merupakan upaya menipu pengguna agar memberikan informasi sensitif melalui pesan, email, telepon, atau situs palsu. Sebelum memasukkan kata sandi, periksa alamat situs dan pastikan layanan yang dibuka benar-benar resmi.
Jangan pernah memberikan kata sandi atau kode autentikasi kepada orang yang mengaku sebagai petugas dukungan teknis. Jika menerima pesan mendesak yang meminta verifikasi akun, buka layanan tersebut secara langsung melalui aplikasi atau alamat resmi.
Kebiasaan berhati-hati ini melengkapi penggunaan kata sandi unik dan autentikasi multifaktor.
Menurut saya, membuat kata sandi yang kuat bukan hanya persoalan memilih kombinasi karakter yang rumit. Hal yang lebih penting adalah membangun kebiasaan digital yang aman dan konsisten.
Kita tidak perlu menghafal puluhan kata sandi untuk melindungi akun. Penggunaan password manager, kata sandi unik, serta autentikasi multifaktor dapat membuat pengelolaan akun lebih praktis sekaligus aman.
Mulailah dari akun yang paling penting, terutama email utama dan layanan keuangan. Periksa kembali kata sandi yang digunakan berulang kali, aktifkan perlindungan tambahan, dan hindari membagikan informasi autentikasi kepada siapa pun.
Pada akhirnya, keamanan digital tidak bergantung pada satu langkah saja. Kombinasi kata sandi yang kuat, pengelolaan yang tepat, dan kewaspadaan terhadap penipuan menjadi fondasi penting untuk menjaga informasi pribadi di tengah semakin luasnya aktivitas masyarakat di internet.
