Pernahkah Anda melihat si kecil merespons situasi sulit dengan nada suara yang sangat mirip dengan Anda? Atau mungkin, Anda menyadari mereka memiliki kebiasaan menaruh barang di tempat yang persis sama dengan kebiasaan Anda? Fenomena ini bukanlah kebetulan. Anak-anak adalah pengamat yang ulung, dan orang tua adalah figur utama yang mereka jadikan panutan.
Hal ini sering kali membuat kita tersenyum, namun tak jarang juga menjadi momen refleksi yang mengejutkan. Mari kita bedah lebih dalam melalui sebuah studi kasus sederhana dan melihat apa kata para peneliti tentang fenomena ini.
Studi Kasus: Kebiasaan Bermain Gawai di Meja Makan
Mari kita ambil contoh keluarga fiktif. Tuan Rendra memiliki kebiasaan mengecek email pekerjaan dan membalas pesan di ponselnya saat makan malam. Ia sering kali mengeluh dan memarahi anak laki-lakinya yang berusia 6 tahun, Leo, karena tidak bisa lepas dari tabletnya saat makan dan menolak untuk berinteraksi dengan keluarga.
Tuan Rendra sudah berulang kali menasihati Leo secara lisan untuk menaruh tabletnya, namun hasilnya nihil. Apa yang sebenarnya terjadi?
Leo sebenarnya tidak mengabaikan ayahnya; ia sedang mengobservasi dan mereproduksi perilaku tersebut. Dalam benak Leo, jika ayahnya diperbolehkan menatap layar saat makan malam, berarti itu adalah perilaku yang wajar dan dapat diterima. Leo tidak mendengarkan instruksi verbal ayahnya, melainkan meniru tindakan nyata yang ia lihat setiap hari.
Apa Kata Para Peneliti?
Anak-anak belajar melalui metode yang disebut dengan *observational learning* (pembelajaran observasional). Mereka menyerap informasi dari lingkungan sekitarnya menyerupai spons.
Sebagian besar perilaku manusia dipelajari secara observasional melalui pemodelan: dari mengamati orang lain, seseorang membentuk ide tentang bagaimana perilaku baru dilakukan, dan pada kesempatan berikutnya, informasi yang dikodekan ini berfungsi sebagai panduan untuk bertindak.
Albert Bandura, Psikolog Penggagas Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory)
Pernyataan Bandura ini sangat relevan dengan studi kasus Keluarga Rendra. Leo merekam tindakan ayahnya yang bermain gawai saat makan dan menjadikannya sebagai panduan bertindak. Selain itu, para ahli psikologi perkembangan menekankan bahwa anak jauh lebih memperhatikan tindakan dibandingkan ucapan.
Orang tua sering kali berpikir bahwa mereka sedang mengajari anak-anak mereka saat mereka sedang berbicara. Namun, pembelajaran terbesar justru terjadi saat anak-anak hanya memperhatikan bagaimana orang tua menjalani hidup mereka.
Dr. Laura Markham, Psikolog Klinis dan Penulis *Peaceful Parent, Happy Kids*
Anak-anak tidak pernah pandai mendengarkan orang yang lebih tua, tetapi mereka tidak pernah gagal dalam meniru mereka.
James Baldwin, Novelis dan Pengamat Sosial
Pelajaran Penting untuk Orang Tua
Dari studi kasus dan pandangan para ahli di atas, terdapat beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan di rumah:
Audit Kebiasaan Diri: Sebelum berupaya memperbaiki perilaku anak, evaluasi terlebih dahulu kebiasaan kita sendiri. Apakah ada perilaku negatif yang tanpa sadar kita pertontonkan setiap hari?
Jaga Konsistensi Ucapan dan Tindakan: Jika kita melarang anak berteriak saat marah, pastikan kita juga mampu mengelola emosi dan tidak membentak saat sedang kesal.
Jadilah Model yang Disengaja: Tunjukkan kebiasaan baik secara eksplisit. Misalnya, membaca buku di ruang keluarga, merapikan tempat tidur, atau berani meminta maaf jika melakukan kesalahan.
Buka Ruang Diskusi: Jika Anda terlanjur menunjukkan kebiasaan buruk di depan anak, jadikan itu momen pembelajaran. Akui kesalahan Anda dan jelaskan bagaimana Anda akan memperbaikinya ke depan.
Kesimpulan
Mendidik anak pada dasarnya adalah mendidik diri kita sendiri terlebih dahulu. Ketika kita menyadari bahwa setiap gerak-gerik kita adalah "buku pelajaran" visual bagi si kecil, kita akan menjadi jauh lebih berhati-hati dalam bertindak. Mari mulai menjadi versi terbaik dari diri kita, agar anak-anak kita memiliki cermin yang baik untuk masa depan.

